Alam Aksara

Membukakan Pintu Kesempatan ke Dunia Pendidikan

Alam Aksara header image 2

Cerita Perjuangan Mimpi Maria dari NTT

 

Ia datang pagi-pagi untuk bertemu dengan kami – yayasan alam aksara-
Memakai kaos hitam dan jaket, wajahnya tegar dan tangguh.
Datang dengan membawa mimpi dan harapannya untuk kuliah.

Maria Tefnai, atau yang lebih akrab disapa Emo ini, sekarang tercatat sebagai mahasiswi di Universitas Cendana, Jurusan Teknik Sipil. Ia berhasil masuk perguruan tinggi melalui jalur undangan atau yang lebih dikenal sebagai jalur SNMPTN. Gadis umur 18 tahun ini tinggal di Amarasi, sebuah kota dingin yang berjarak 43 km dari Kota Kupang.

Pertemuan kami -ketua yayasan Alam Aksara dan Admin- dengan Emo berawal di 26 Agustus lalu di kota Kupang, ia sengaja datang ke Kota Kupang untuk melakukan interview beasiswa Yayasan Alam Aksara. Dari ruang tamu Kak Frengky (koordinator yayasan), Emo menguak kisah dan motivasinya untuk berkuliah.

Emo mulai memperkenalkan diri, mulai dari menyebut nama, tempat tanggal lahir dan menceritakan hobinya dalam membaca buku. Akhir-akhir ini dia barusaja menyelesaikan satu novel berjudul “3600 detik”. Kami memintanya untuk menceritakan ulang, alur cerita dari buku tersebut. Ia dapat menceritakan alurnya dengan sangat baik, bahkan ia ingat baik warna rambut dan cat kuku pemeran utamanya.

“Pemeran utamanya ada dua, Sandra dengan Leon. Sandra itu rambutnya dicat warna merah, kukunya juga” ujar Emo dengan tergelak, kami pun ikut tertawa.

Di tingkat SMP dan SMA, Emo sudah dikenal sebagai anak yang cerdas, ia selalu masuk ranking 5 besar di kelasnya. Tak hanya itu, Emo juga pernah mengikuti Olimpiade Fisika tingkat Provinsi NTT dan berhasil masuk ke 10 besar. Perjuanganya mencapai prestasi ini tidak main-main. Di rumahnya yang belum teraliri listrik, Emo harus belajar dengan menggunakan lilin.

“Kendala (belajar) utamanya itu adalah lampu, di rumah kami belum ada listrik jadi saya harus belajar siang hari atau kalau terpaksa mengerjakan tugas malam hari, saya biasa pakai lilin.” ujarnya.

Semangat belajar yang tinggi dari Emo, ditularkan oleh orangtuanya. Meskipun kondisi ekonomi mereka terbatas dan kesehatan mereka sudah terganggu tetapi orangtua Emo tetap mendukung anaknya bersekolah sampai setinggi-tingginya dengan berbagai cara. Mulai dari menggadaikan tanah dan rumahnya pada bank dan meminjam uang. Sampai pada tahun 2015 lalu, rumah mereka disita.

“Papa dan Mama jadi petani kalau musim hujan, karena air cukup. Tapi kalau kemarau datang, biasanya (Papa dan Mama) jadi serabutan.” terang Emo.”Pulang sekolah juga saya bantu Mama untuk jual sayur di kampung-kampung. Jual (sayur) dengan dipikul begitu sampai sore.”

Kondisi yang tidak mudah ini membentuk karakter Emo yang kuat dan dewasa dibandingkan anak seumurnya. Dalam kondisi yang tidak mudah itu, kami bertanya-tanya, apa sebenarnya motivasi Emo untuk berkuliah dan mengapa harus di Teknik Sipil ?

“Orangtua saya bilang, ‘kami sudah merasakan susahnya hidup jadi kalian harus bisa jadi sarjana biar hidup lebih baik’. Kenapa saya masuk Teknik Sipil, itu karena saya bercita-cita ingin jadi Konsultan Struktur, saya tahu tentang konsultan struktur dari kakak saya yang berkuliah jurusan Arsitek dan saya tertarik.” jawab Emo.

“Selain itu kalau saya sudah sukses nanti, saya bisa bantu orangtua, membangun rumah untuk mereka dan membantu anak-anak yang kesulitan biaya seperti saya sekarang ini” ujar Emo dengan semangat.

Kisah-kisah Emo membuat kami terinspirasi, takjub dan salut atas keteguhan hatinya untuk menjalani hidup. Mempertimbangkan prestasi dan semangat kuliah Emo, ketua pengurus Yayasan Alam Aksara memutuskan Emo untuk mendapatkan beasiswa dan menjadi bagian dari keluarga besar yayasan.

Selamat datang di Yayasan Alam Aksara, Emo. Teruslah belajar dan bersinarlah !

Kupang, 26 Agustus 2018